Pos blog pertama

Ini adalah pos pertama Anda. Klik tautan Sunting untuk mengubah atau menghapusnya, atau mulai pos baru. Jika ingin, Anda dapat menggunakan pos ini untuk menjelaskan kepada pembaca mengenai alasan Anda memulai blog ini dan rencana Anda dengan blog ini.

pos

Advertisements

Orang indonesia wajib membaca, kegilaan aparat keamanan NKRI terhadap orang papua.

Bapak Jokowi dan Tito Kembalikan Anak Kami: Simon C. Magal ke Pangkuan Keluarga!

===================================

Bapak Presiden Jokowi dan Kapolri yang saya kasihi,

Cukup kekayaan Gunung Emas saya dirampuk dan dicuri!!! Jangan lagi ambil, anak emas saya Simon C. Magal, Salah satu Pemilik Sulung Gunung Emas Nemangkawi.

Bapak Presiden dan Kapolri, Selamat hari Minggu. Saya Mama Yosepa Magal Alomang, dari jaga Gunung Emas Kalian di Timika Papua, sejak semalaman tidak bisa isterahat baik. Hari ini hari minggu, hari Kami Umat Kristiani ke Gereja untuk Mengikuti Misa/doa seperti hari-hari biasanya. Namun saya tidak bisa tidur baik dan tidak bisa ke gereja karena salah satu anak Penjaga Gunung Emasnya Bapak dorang, diambil dari tangan saya. Anak ini dia ambil seperti Pencuri. Nama anak kami ialah Simon C. Magal. Umurnya 26 Tahun, beragama Kristen Protestan dari suku Amungme-Timika Papua. Simon telah tamat S1 Hubungan Internasional di salah satu perguruan Tinggi di Jogyakarta pada 2016 dan saat ini sedang mengikuti kursus bahasa Inggris di Jogyakarta.

Bapak Presiden dan Kapolri;

Mungkin sudah dapat laporan juga, namun saya menyampaikan pada kesempatan ini bahwa Simon Magal ditangkap oleh Kepolisian RI di Timika West Papua pada 1 Sept 2018, pukul 12.00 waktu Papua di lokasih Timika Indah, Distrik Mimika Baru, Kabupaten Timika – Papua.

Simon pada saat itu, baru keluar dari Kantor saya, YAHAMAK (Yayasan Hak Asasi Manusia Anti Kekerasan) dengan untuk makan siang di rumah makan warga non Papua (Indonesia).

Setelah Simon ditangkap anggota Polisi langsung menyita/mengambil HP terlebih dahulu dari tangan Simon Magal. Ia langsung dibawa Kantor Polisi. Hingga sore ini, kami keluarganya tidak diberitahukan untuk tujuan apa Simon ditangkap kemudian dibawa ke Kantor Polisi.

Kami kembali dikagetkan lagi bahkan shok karena pada 2 september 2018 ini sekitar pukul 03.00 subuh Waktu Papua, Simon dibawa keluar dari ruang tahanan Polres Timika, kemudian dengan pesawat pagi diterbangkan keluar Timika. Anak Simon baru ada di Timika Papua, di kampung halamannya, dari Jogyakarta-Indonesia.

Bapak Presiden dan Pak Kapolri;

Selama ini Simon Tinggal di Jogya mengikuti Kursus Bahasa Inggris. Sebab Tahun lalu dia lulus Tes salah satu Universitas di USA. Namun karena kekurangan bahasa inggris, maka kami keluarga mendukungnya untuk kursus bahasa inggris supaya tahun-tahun yang akan dapat melanjudkan pendidikan.

Saya sebagai Mama, Mesti jujur menyampaikan bahwa kami keluarga benar-benar kaget dan bingung dengan atas situasi yang anak kami alami hari ini. Sebab selama ini, Pemerintah Indonesia mengajarkan secara teori hukum kepada kami berbeda dan yang kami alami secara langsung. Kami diajarkan bahwa penangkapan adalah langkah akhir apabila tidak memenuhi panggiln 1-2. Namun Anak kami Simon Magal ditangkap tanpa terlebih dahulu melayangkan surat pemanggilan kepadanya.

Akibat penangkapan yang dialami Simon Magal seperti ini, sejumlah kalangan mahasiswa dan teman2 simon di Timika, Jayapura dan Jogya dan di Indonesia lainnya khususnya dari Suku Amungme Timika West Papua semakin trauma dan mengkhawatirkan nasib mereka ke dapan. Sebab cara-cara penangkapan tanpa surat pemanggilan seakan Anak kami ini pelaku teror.

Bapa Presiden dan Kapolri;

Pada masa Orde Baru, saya Mama Yosepa dulu ditangkap dan ditahan/dipenjarakan 16 kali ketika saya membela ha katas gunung, tanah dan manusia Amungme-Papua di Timika. Sebagian besar hidup saya hilang di tahanan. Saya direndam berbulan-bulan dalam container PT.Freeport oleh Militer Indonesia. Sebagian dari teman-teman saya dibunuh dan dibuang. Saya adalah saksi hidup. Saya masih trauma sampai dengan saat menuliskan surat ini.

Setelah 20 tahun Reformasi Indonesia (Mei-1998-Mei 2018), cara yang dulu alami masih berlaku pada Simon dan orang Amungme serta Papua yang lainnya. Saya mesti kembali tegaskan bahwa cara-cara kepolisian dan militer Indonesia masa Orde Baru, militeriktik terus terjadi di Tanah Papua.

Bapak Presiden dan Kapolri;

Dalam kurun waktu kurang dari 4 tahun ini (October 2014-September 2018) hampir 7.000 anak-anak muda Papua Anda Tangkap, tahan dan beberapa diproses hukum.

Pembungkaman ruang demokrasi, penangkapan dan penahanan sewenang-sewenang, penembakan dan pembunan, pelanggaran HAM pada orang Amungme dan rakyat West Papua terus terjadi hingga saat ini. Rakyat West Papua, terusik dan terancam di tanah mereka sendiri pasca pendudukan Indonesia selama 55 tahun di West Papua.

Bapak Presiden sampaikan pada 2015 dan beberapa kali saat berkunjung ke Papua bahwa ” saya mempersilahkan media masa, pekerja kemanusiaan, lembaga-lembaga internasional silakan datang ke Papua”. Namun sampai dengan saat ini, semua itu belum terjadi di Papua. Demokrasi di Indonesia itu benar-benar hanya berlaku untuk orang-orang Indonesia minus Papua. Dengan ini sesungguhnya saya berksimpulan bahwa _”Bapa sedang sampaikan kepada kami orang Papua bahwa memang kamu bukan Indonesia tapi kamu itu Papua, beda dengan kami rakyat Indonesia lainnya.”_ Jika itu maksudnya, kenapa Bapa tidak jujur sampaikan itu kepada kami? Apakah Bapa dorang tidak ada perasaan malu? Apakah hati nurani sudah mati? Apakah Mata dan telinga buta dan tuli?

Bapak Presiden dan Kapolri;

Saya Mama Yosepa Alomang, sebagai Tokoh Perempuan dan Tokoh HAM Papua pada kesempatan ini hendak menyampaikan;

1.Bapa Presiden dan Kapolri RI membuka mata dan dengar suara kami ini dengan segera membuka Ruang Demokrasi dan Kebebasan bagi Rakyat Papua supaya kami dapat hidup bebas di atas tanah leluhur kami.

2. Cukuplah, Emas di Gunung Nemangkawi Tembagapura Timika Papua Bapa dorang ambil, hutan-hutan sudah habis dan orang-orang besar Papua yang kami lahirkan seperti; Arnol Ap, Thomas Wanggai, Theys H. Eluay, Elieser Awom, Kelly Kwalik, Thadeus Yogy, Mako Musa Tabuni, Hubertus Mabel, Agus Alua, Joni Wamu Haluk, J.P. Salossa, Octo Ondowame, Yustinus Murib, Pdt. Elisa Tabuni, Mama Beatrik Koibor, Frans Wospakrik, Willy Mandowen, Willem Onde, Opinus Tabuni, Yafet Yelemaken, Willem Zonggonau, telah dibunuh dengan cara kekerasan maupun dengan cara halus. Sekali lagi cukup sampai pada mereka!

3. Anak Simon C. Magal adalah bibit untuk jaga dusun, gunung emas. Jadi Mama minta Kembalikan Anak itu ke Pangkuanku. Saya akan menungguhnya di rumah Tua, YAHAMAK Timika Papua.

Bapa Presiden dan Kapolri

Maaf saya menyita waktu Anda. Mama sadari saat ini Pasti Bapa Sibuk untuk persiapan perayaan Penutupan acara Akbar ASIAN GAMES. Mama menyampaikan Selamat untuk Semua Prestasi anak-anak, bibit-bibit muda Indonesia. Yaaa…selamat buat anak-anak muda yang berprestasi. Kalian adalah harapan masa depan bangsa.

Pada saat yang sama, kebebasan Anak Kami Simon Magal adalah harapan saya mewakili banyak Janda dan Duda di Papua yang anak-anak kami lahir telah berguguran di lembah, gunung, lereng, pesisir pantai di Papua dan luar Papua.

Demikian doa Bunda ini sampaikan kepada Bapak Presiden Jokowi dan Bapak Kapolri.Akhirnya saya menyampaikan ucapan Terima kasih untuk semua kerja sama dalam menyelamatkan dan membebaskan anak, adik terkasih Simon Magal secara khusus dan rakyat bangsa Papua. Tuhan memberkati. Amolongo.

#MAMA #YOSEPA #ALOMANG, #Jayapura #Papua.

_No. Hp. +6282311074727